This may come as a shock to you. Gosh, I hate for this to be my first mail to you as my new boss. Yet, lately, I've been doing some soul searching and I
Kutatap kursor yang berkedip-kedip di atas jendela Outlook-ku. Kugerakkan penunjuk tetikus ke sudut kanan bawah layar komputerku: 10:23. Aku sudah menghabiskan hampir satu jam, berusaha mengkonstruksi surat elektronik ini. Berkali-kali sudah kutulis satu-dua alinea hanya untuk kuhapus lagi.
Aku bergeser gelisah di kursiku dan melirik rekan-rekan sekerja di sekitarku. Kuharap mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing -- bahkan jika pun yang mereka lakukan bukanlah bekerja. Aku tidak ingin mereka tahu apa yang sedang kuperbuat dan aku mengutuki diriku sebagai seorang munafik karenanya.
Ah, lebih baik kuperkenalkan diriku dahulu. Namaku Abimanyu. Laki-laki asli. Paling tidak ketika terakhir kali kuperiksa, masihlah demikian. Teman-teman dekat memanggilku Abi, sementara mereka yang mengaku sahabat memanggilku Manyun. Pada awalnya aku membenci nama itu, namun setelah sering kali melihat diriku sendiri di kamera web, aku harus setuju dengan mereka: tampangku memang lebih banyak serius. Paling tidak itu menurutku. Sahabat-sahabatku melihatnya sebagai manyun.
Usiaku hampir 30 tahun dan selama ini aku selalu bekerja sebagai seorang karyawan aiti. Aiti? Maksudku IT, alias Information Technology, alias Teknologi Informasi. Masalahnya, jika sekarang aku melihat ke belakang, ke beberapa tahun terakhir ini, aku selalu sampai pada kesimpulan bahwa aku adalah seorang seniman yang terjebak dalam tubuh seorang karyawan aiti.
Aku suka menggambar pun bermain musik. Aku gemar menulis fiksi dan puisi. Aku bahkan pernah mencoba memahat dan berakting. Dan kurasa aku tidaklah memalukan dalam semua bidang itu, jika boleh aku agak sombong. Menurut orang-orang di sekitarku, gambar-gambarku bagus dan tulisan-tulisanku menarik -- dan orang-orang di sini tidaklah termasuk ibuku. Aku menyadari kemampuan bermusikku tidaklah hebat namun jika melihat bagaimana teman-teman band-ku belum juga menendangku keluar, seharusnya kemampuanku tidaklah jelek juga.
Lalu mengapa aku bertahan sebagai karyawan aiti selama ini? Pertanyaan bagus dan percayalah, aku pun masih berusaha mencari jawabannya. Mungkin jawaban paling mudah adalah bahwa itulah yang kupelajari di bangku kuliah? Mungkin karena (hampir) semua teman kuliahku juga akhirnya bekerja sebagai karyawan aiti? Mungkin karena menjadi karyawan aiti menawarkan jalur karir dan potensi menabung yang, biarpun tidak terlalu gemilang, relatif lebih 'aman' dibandingkan, misalnya, menjadi musisi jalanan -- yang hanya bisa beraksi seiring lara seseorang kehilangan seseorang yang lain?
Itu jika dilihat dari sisi aitinya, yaitu faktor luar. Jika dilihat dari faktor dalam, hmm... Mungkin karena sejak kecil aku selalu dididik untuk mengikuti arus? Betapa pun kerasnya aku berusaha menyimpang, akhirnya aku selalu kembali ke 'jalan utama' yang relatif lebih mulus. Aku ingat, semasa sekolah dan kuliah ada beberapa subjek yang kubenci karena menurutku tidaklah akan berguna setelah aku lulus. Alhasil, sepanjang semester aku tidak berusaha untuk mempelajarinya. Namun ketika tiba waktunya ulangan dan ujian, aku selalu berhasil memaksa diri untuk berusaha keras menghindari nilai jelek -- dengan cara legal maupun sebaliknya. Dan bukan karena tekanan orang tua karena toh mereka selama ini tidak terlalu peduli dengan prestasi akademisku. Terserah aku mau berbuat apa, sepanjang mereka tidak dipanggil ke sekolah karena ada masalah, itu sudah cukup.
Jadi kalau boleh kuulangi, selama ini aku selalu mengambil jalan yang diambil sebagian besar orang, meskipun terkadang hati ini tidaklah rela. Dan aku bertahan selama delapan tahun ini, tanpa dapat berkata bahwa aku tidak bahagia. Lalu mengapa tiba-tiba seolah-olah aku memandang hal ini sebagai suatu masalah? Lagi-lagi pertanyaan bagus.
Jawabannya bernama Jingga.
Aku mengenal Jingga melalui, lagi-lagi, jalur yang banyak ditempuh orang: dunia maya. Oh, maaf, maksudku jalur yang banyak ditempuh orang dari generasiku. Pernah dengar yang namanya blog? Ah, maaf, tentu saja pernah. Bahkan aku tidak akan terkejut seandainya setiap dari kalian memiliki paling tidak satu blog. Jingga adalah salah satu penulis blog pertama yang kukunjungi. Sejak pertama-tama aku membaca tulisannya, aku jatuh cinta. Pada tulisannya, maksudku.
Singkat cerita, kami mulai berkorespondensi dan tiga tahun kemudian -- itulah sebabnya ceritanya kusingkat -- memutuskan bahwa kami tidak dapat hidup tanpa yang lain. Kalimat persisnya aku lupa, namun aku yakin tidak jauh berbeda dari ungkapan-ungkapan klise dua sejoli yang sedang jatuh cinta; dunia -- nyata maupun maya -- serasa milik berdua.
Jika aku mengaku-aku sebagai seorang seniman yang terperangkap dalam tubuh seorang pegawai kantor, Jingga adalah seorang seniman sejati. Ia tidak pernah takut mengungkapkan hal yang menurutnya benar, sesuatu yang diyakininya, meskipun itu sangat bertentangan dengan opini umum. Aku percaya ketidakpedulian Jingga ini adalah salah satu faktor yang memungkinkannya bebas berkreasi, berbuah karya-karya -- tulisan dan lukisan -- yang bernilai seni tinggi.
Jingga selalu berkata, "Jadi orang itu harus mendengarkan kata hati, Bi. Jangan cuma mengandalkan otak."
Aku selalu menjawab, "Dan jadi seorang seniman itu harus mengikuti kata hati ya, Nak?" Oh ya, panggilan sayangku untuknya adalah Minak -- dan maaf, tidak ada hadiah bagi yang berhasil menebak asal muasalnya.
"Oh, tentu," begitu katanya. "Contohnya saat ini. Aku tahu aku harus berada di kantorku setengah jam lagi tapi aku tiba-tiba ingin berenang..."
"Berenang? Itu namanya bukan mengikuti kata hati, Sayang, tapi melalaikan tanggung jawab."
"...di Bandung."
Hubungan dengan Jingga membuat mataku terbuka akan hal-hal yang selama ini aku tidak pernah tahu. Atau tepatnya, tidak pernah ingin tahu. Idealisme Jingga bertemu dengan rasionalitasku dan, alih-alih menyebabkan benturan-benturan di antara kami, menghasilkan suatu harmoni dan beberapa karya bersama. Jingga mengajariku membuka diri dan menjadi lebih bebas dalam berekspresi. Aku memberinya masukan-masukan dari 'sisi yang lain' dan menjaga letupan-letupan emosinya tidaklah, dalam kamusku, mengakibatkan (terlalu banyak) friksi dengan orang lain.
Sampai di sini, dapatkah kalian melihat betapa aku memuja sosok Jingga? Jika ya, bagus, karena memang demikianlah adanya.
Beberapa waktu yang lalu, aku berkata kepadanya, "Nak, aku kok akhir-akhir ini merasa tidak bahagia ya bekerja di kantor yang sekarang?"
"Kok bisa? Kamu bukannya suka bekerja keras memeras jeruk?"
"Aku tidak keberatan memeras jeruk kalau memang ada hasilnya. Masalahnya, sekarang hasilnya tidak terasa. Selain badan yang lelah, tidur yang kurang, dan waktu bersamamu yang hilang."
"Ada apa ya, Bi? Biasanya kamu tidak begini."
"Aku sendiri tidak tahu. Mungkinkah aku sedang bosan saja ya?"
"Mungkin. Kamu sudah berapa tahun sih di aiti?"
Aku menghitung-hitung. "Hampir delapan tahun. Wah, delapan tahun! Itu kalau anak kecil sudah naik ke kelas tiga SD!"
"Nah, lama kan. Mungkin sudah waktunya kamu mencari hal yang baru, Say."
"Hal yang baru? Mungkin ya. Mungkin selama ini aku terlalu fokus pada pekerjaanku, dan kamu tahu sendiri bagaimana pekerjaanku, sangat menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Terlalu fokus sehingga aku tidak pernah memikirkan hal-hal seperti ini."
"Mungkin. Jadi, tunggu apa lagi? Carilah hal yang baru."
"Tapi cuma aiti yang kutahu. Kalau aku pindah ke bidang lain, aku harus mulai dari bawah lagi."
Jingga mengangkat bahu. "Risiko dan kesempatan, Sayang. Kamu mengambil suatu pilihan, kamu siap akan konsekuensinya."
"Kamu mungkin siap. Aku? Selama ini aku kan selalu lurus-lurus saja."
Kekasihku tersenyum dan menumpangkan telapak tangan di atas tanganku. "Bi, kamu tidak akan sendirian. Aku ada di sini kan?"
Aku menatapnya. "Benar? Janji?"
"Janji. Kamu sendiri kan yang bilang bahwa begitu dua orang memutuskan untuk bersatu, tidak lagi ada masalah aku dan kamu. Yang ada hanyalah masalah kita."
"Aku bilang begitu ya? Bijaksananya aku."
"Iya, kamu keren."
Pagi ini, aku terbangun dan langsung saja hal pertama yang terpikir olehku adalah: aku harus keluar dari kantor ini. Kuraih ponselku dan kukirim sebuah pesan pendek ke Jingga.
Jawabannya datang dengan cepat -- hubungan kami telah melatih ibu jari kekasihku ini, yang sebelum ini tidak suka saling berkirim pesan pendek melalui ponsel.
Maka terduduklah aku di sini, berusaha menyelesaikan surat pengunduran diri untuk dikirim ke atasanku. Jam di sudut kanan bawah kini menunjukkan 10:49 dan tidak ada kemajuan sejak 10:23 lalu.
Kuhela nafas panjang. Kukecilkan jendela Firefox dan kutatap Outlook-ku. Mengikuti kata hati. Bukan sesuatu yang asing dan sulit bagi Jingga dan seniman lainnya. Mereka selalu siap menghadapi masa depan. Apa yang akan terjadi, terjadilah dan akan kami hadapi. Bagi karyawan aiti yang rasional ini? Lebih baik aku disuruh membuat sebuah situs perusahaan dalam waktu semalam. Jemariku bergerak.
I would like to thank you for all the guidance and I'm not just saying this because you're my boss now. I wish you and the company the very best in your endeavors.
PS: I'll print and pass you the official letter once we've agreed on my last working day.
Regards,
Abimanyu
Kutelusuri lagi kata demi kata yang telah kuketikkan. Keluar dari perusahaan yang sekarang tanpa mengetahui apa yang akan kulakukan selanjutnya. Tanpa ada rencana pasti.
Ikuti kata hatimu, Bi. Aku akan selalu mendukungmu.
Kalau bukan karena Jingga, tidak mungkin sesuatu yang 'gila' seperti ini akan terpikir olehku. Hal-hal seperti inilah yang membuat aku sangat bersyukur atas kehadiran perempuan itu di dalam hidupku.
Kugerakkan penunjuk tetikus. Kubiarkan ia menari di atas tombol Send dan Cancel bergantian. Nafas panjang sekali lagi.
Kuklik Send.
Lekas-lekas kututup jendela Outlook, seolah-olah tidak ingin melihat suratku berpindah ke pelipat Sent Items. Kutoleh sekelilingku: rekan-rekan sekerjaku masih saja sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Dan mengapa harus ada yang berbeda? Kuraih gelasku dan bangkit untuk mengambil air minum.
Ketika aku kembali, kuaktifkan kembali jendela Firefox. Halaman Gmail - Compose Mail menyambutku. Kubaca lagi yang telah kutulis.
Selama ini kamu dengan giatnya menyuruhku mendengarkan dan mengikuti kata hatiku. Terima kasih karena telah membuka mataku.
Aku tidak tahu harus menulis apa namun aku tetap harus menulis ini. Aku telah menuruti kata hatiku. Percayalah, ini sama sekali bukan sebuah keputusan yang mudah dan aku tidak bisa tidur beberapa minggu ini memikirkannya. Memikirkanmu yang telah demikian baik bagiku. Kamu yang telah membuat hidupku begitu indah setahun terakhir ini.
Maafkan aku, Minak, aku harus menulis ini... Minak, aku sayang kamu. Tetap dan akan selalu. Namun ada bagian hatiku yang terus-menerus mengatakan bahwa kita tidak seharusnya bersama. Kita begitu berbeda dan aku takut jika diteruskan, hubungan ini akan berakhir menyakitkan nantinya. Otakku bilang kamu yang terbaik untukku.
Hatiku bilang bukan.
Kuusap mataku. Ada yang basah di sana. Oh, sejak kapan aku jadi emosional dan cengeng?
Dua helaan nafas panjang dan kulemaskan jari-jariku.
Jingga, kamu adalah orang yang paling baik sedunia, sementara aku adalah orang yang paling jahat. Aku hanya tidak bisa membohongi hatiku.
Terima kasih atas segalanya...
Yang selalu menyayangimu,
Abi
Penunjuk tetikus menari di atas tombol Send dan Discard.
Kuklik Send.
(Met ultah buat Bryan Tamara, yang secara resmi ngenalin gua ama benda bernama blog ini, lima taon yang lalu.)
Disunting 19:20 WIB
Yah, akhirnya kalah. Sedih tapi menurut gua nggak ada yang perlu disesali. Emang secara teknis dan fisik masih kalah. Udah melebihi prediksi semula. Jadi... aku padamu, Indonesia! *muah, muah*
Lagi dengerin: Creed - Who's Got My Back
Lagi ngerasa: gembira
hmm.......
gimana kalo lu jadi penulis aja ren?
atau jadi pembuat puzzle yg susah banget? (yg buat lho, bukan yg menyelesaikan.. )
ngomong2, gimana sih taunya kalo otak bilang iya tapi hati bilang bukan? (atau sebaliknya)
trus gimana kalo hati sama otak gak pernah sama2 bilang bukan/iya?
pusing deh hehe..
Laper, Yol?
Kalo gua sih mayan sering, Bond. En biasanya gua menangin otak, soalnya lebih gampang dikuantifikasi.
"Otakku bilang kamu yang terbaik untukku.
Hatiku bilang bukan."
Hhh.. dalam hal ini gue nyambung banget sama Abi. Karena gue lagi ada di posisi yang sama, cuma beda objeknya.
Salut aja deh buat Abi karena berani mendengarkan kata hati. Setidaknya dia sudah memilih, sementara gue masih kebingungan di zona nyaman. :(
Menurut gua, tidak ada yang salah dengan tetap berada di zona nyaman. Kalo elu nggak ngerasa ada yang salah dengan zona itu, ngapain dipaksain cuma gara-gara orang laen pengen keluar?
Siapa sih yang tau pilihan mana yang terbaek? Yang ada cuma kepuasan orang yang telah berhasil memilih. Karena begitu pilihan udah diambil, nggak usah dipikirin lagi, jalani aja konsekuensinya.
Selamat memilih :)
topik blog sekeliling gw kenapa berbau2 pilihan mulu ya?
btw, gue tau kenapa Jingga dipanggil Minak.
Betul, selamat memilih buat orang-orang Jakarta yang punya hak pilih. Pilihlah yang terbaik, Adang sahabatku, Fauzi saudaraku hehehehe.....
Garing nggak seeehhhh....
Kalau menurut gw, Dol, rumus yang tepat untuk membina sebuah hubungan adalah 30% hati dan 70% otak ;)
BTW, kayaknya Abi kudu diguyur secangkir kopi di Starbucks tuh, to realize that to be a good IT-ers, you need certain degree of art skill ;)
okke: Jangan bilang ada kaitannya sama iklan :DD
Jeng May: Kalo gue bilang, 50% hati, 50% otak. :)
Novelis Kondyang, selamat, Anda tidak mendapat hadiah!
Juwi, garing lu. Maen ama Pitruk sono.
Jeng May, seperti yang dulu sering gua bilang ke mantan pacar: IT itu luas. Jadi inget ya, Orang-Orang, nggak semua lulusan IT itu lantas bisa diajak ke rumah buat benerin monitor yang nggak mau nyala.
Nah, kemampuan seni emang dibutuhin ama beberapa bidang IT. Buat yang tugasnya berantem ama klien, perlu seni ngibulin klien. Buat yang tugasnya berantem ama pemakai internal, perlu seni ngibulin pemakai internal.
Buat yang laen, perlu mengeluarkan aer seni tiap pagi.
J, N * (1 - N / 4) di mana N adalah... udah ah, kendaraan roda dua nih.
Kadang susah bedain yang mana yang kata hati dan yang mana yang kata otak. Abis otak gw ogeb, seringan cuman menjustifikasi yang dimaui sama hati.
-Jinggo, jinggo-jinggo--
Numpang lewat ya Ren. Jarang aku menulis di blog-mu. Tapi engkau sering menyapaku lewat komentar-komentarmu di blog-ku.
blog-mu, blog-ku, blog-nya.
sc: 890672
mungkin bisa dicoba kirim tulisan nya ke majalah2, daripada maen puzzle mulu :)
Ogeb atau pinter, Son? Nggak mau tanggung jawab, jadi dilempar aja ke hati.
Halo, Nungki. Godain kita duong!
Majalah Donal Bebek boleh juga tuh, Rin.
digoda dengan apa Ren? pake puzzle aja ya..
Boleh. Apa sih yang nggak boleh buat elu, Nung?!
"Jadi inget ya, Orang-Orang, nggak semua lulusan IT itu lantas bisa diajak ke rumah buat benerin monitor yang nggak mau nyala."
Stuju!!! Sama juga ngga semua lulusan elektro lantas bisa diajak ke rumah buat benerin tv yang ngga mau nyala :-D
pangeran panda:
kalo benerin radio?
Mungkin perlu lulusan Psikologi untuk mengetahui kenap nap monitor, tipi, atau radio itu menolak untuk nyala.
Tipi juga manusia, punya rasa, punya hati...
Makanya, dengerin dong curhatnya tipi, monitor, radio.. empati dong, empati :p
jeng may: tipi di rumah gue udah beberapa bulan ngambek ga mau keluar suara, gimana dong ngebujuk supaya mau curhat?
*seriously, padahal udah diserpis 2x*
Itu mah bagianlu, Jeng, dengerin curhat dan menganalisis monitor, tipi, dan radio. Sebagai lulusan IT dan Elektro, kita tinggal manggut-manggut, oh, gitu tho -- sambil dalem ati bilang, ini orang ngomong apaan sih?!
J, gua wakilin Jeng May ya: buka pintunya, keluarin radionya, masukin tipinya.
okke: yang bilang gak bisa benerin tipi itu putri panda, bukan pangeran panda .. kalo saya sih .. ya gak bisa juga hahaha :)
ren, ikutan lomba nulis gih.
eh jadi pengen sms elo.
Bikin saingannya Harry Potter aja kali ya: Heri Pot Bunga, he he he.
Mana, Cok, HP gua diem aja tuh?
Selamat hari Selasa juga, Dol.
trims yak :)
eh itu beneran resign? kisah cintanya kok terbaca familiar sekalee... apa ga sekalian disebutin sang fasilitator? :))
Minak... hm, jadi PR deh ya. lagi males mikir, selain Minak Jinggo. eh, apa Minak itu berarti merah yah.... *nanya sendiri, bingung sendiri*











