Seandainya kemarin saya tidak mengalami suntuk maksimum di kantor.
Seandainya saya malamnya tidak menghabiskan beberapa jam ber-bawah-selimut-atas-selimut, membayangkan hari esok.
Seandainya pagi tadi saya tidak merasakan kemalasan yang luar biasa.
Seandainya saya memutuskan untuk mengambil cuti mendadak dan bukan emsi.
Seandainya saya memilih klinik yang sebelumnya saya pernah datangi.
Seandainya saya tidak diminta menunjukkan kartu identitas untuk dimasukkan ke basis data klinik.
Mungkin setelah beberapa minggu berlalu barulah saya menyadari bahwa kartu identitas saya tidak lagi berada di dalam dompet. Dan tentunya saya akan menghadapi kesulitan mengingat-ingat kali terakhir saya yakin kartu tersebut masih ada.
Setelah menghabiskan hampir satu jam untuk berusaha mengingat, akhirnya saya simpulkan bahwa saya telah meninggalkan kartu identitas saya di tempat kami bermain pool Kamis malam lalu.
Seandainya sesi pembinaan kelompok itu diselenggarakan beberapa bulan yang lalu dan bukan hanya empat-lima hari yang lalu.
Seandainya Singapura tidaklah terlalu kecil untuk memiliki daerah "luar kota."
Seandainya acara itu diadakan di luar negara ini.
Seandainya saya benar-benar sakit.
Tentulah saat ini kartu tersebut belum kembali ke tangan saya.
Segala sesuatu terjadi dengan alasan tertentu?
Berdasarkan pengalaman saya, sepertinya demikian.
Sedang mendengarkan: Cokelat - Ikrar Kami
Sedang merasa: beruntung
Untung, kehilangan ID gitu bisa ditangkep polisi kalo lagi pemeriksaan :P paling gak ditanya-tanya. Kehilangan ID diri.
Fiuuuh! Bejane nggak ilang. Ikut bingah.
gak lengkap ah, gimana cerita ketemunya? :D
menyebalkan.
main pool nggak ngajak ngajak.
kuwalat itu namanya!=p
Jadi gini...
Pada hari Kamis dan Jumat minggu lalu, 20 dari kami dipaksa oleh kantor untuk mengikuti yang mana daripada team building session. Tempatnya di Yishun (baca: ujung dunia, ya nggak, Rin?) sono.
Karena musti menginap Kamisnya, jadilah kita secara menghibur diri dengan bermain bola sodok dan bola gelinding. Catatan: tidak pada saat yang bersamaan, biarpun bola sodok bisa digelindingkan dan bola gelinding pun bisa disodok.
Singkat cerita, tertinggallah IC keparat itu di sana. Begit git.
Jadi, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu, pelajaran apa yang bisa kita tarik? Satu. Jagalah IC Anda baik-baik. Menurut situs ICA, musti bayar 100 dolar kalo bikin IC baru.
Dua. Cepat-cepatlah bikin SIM. Karena selain IC, cuma SIM dan pasporlah yang diakui.
ICku baru jadi minggu depan, jadi sekarang kemana2 gak pegang IC bawa2 paspor doang :D
Wah, baru jadi PR ya, Bun? Selamat!
Jadi, gimana nasib kartunya? Ketemu? Atau harus urus baru?
Ketemu. Cuma ya itu, yang mustinya bersakit-sakit di kamar, malah jadi berjalan-jalan ke Yishun.
Padahal waktu itu, pas tau acaranya di Yishun, ada yang sempet protes, yah, kenap nap nggak di Genting atau Bintan?!
becul..
semua hal terjadi karena alasan tertentu ;-)
Hehehe...untung team buidlingnya nggak jadi ke Genting ato Bintan. BTW, Bintan itu bagian dari Indonesia, bukan, ya? (hmm..masalah gue di Geografi atau di kecintaan pada Indonesia, ya? Hehehe..)
Atau karena suatu hal terjadi trus alesannya dicari-cari? Wah, keseleo nih! Hmm, mungkin kalo elu nggak keseleo hari ini, besok elu bakal keluar rumah en ketabrak mobil?
Juwi, kayaknya masalahnya karena berat badan elu kurang deh.











