Ketika saya berkata bahwa kemampuan berbahasa Indonesia saya kian hari kian menurun, sayangnya saya tidak sedang bercanda atau menyindir pihak-pihak tertentu. Begitu juga dengan pernyataan bahwa demikian juga kemampuan berbahasa Inggris saya -- namun sudah cukup saya menertawai tangan yang memberi saya makan. Dalam beberapa kali kepulangan ke negara tercinta, saya kerap dibuat terhenti ketika sedang membaca surat kabar ataupun buku karya penulis lokal.
Kata ini artinya apa ya? Kalimat ini maksudnya apa ya?
Memalukan? Saya rasa demikian, mengingat kata-kata yang menghambat laju saya membaca itu tidak selalu kata-kata yang baru-baru ini saja populer. Pun kalimat-kalimat yang membuat saya menggaruk kepala itu tidak semuanya kalimat-kalimat memusingkan ala seorang pengacara.
Itu pertama.
Kedua, saya juga akhir-akhir ini cukup sering gagal menemukan padanan kata atau kalimat dalam Bahasa Indonesia untuk ekspresi-ekspresi tertentu dalam bahasa Inggris. Gagal bukan karena memang tidak ada padanannya, melainkan gagal karena kosa kata atau ingatan saya yang terbatas. Anda boleh tanyakan kepada Pacar Saya -- saya berangan-angan, suatu hari jika Anda mencari "pacar Okke" di Google, situs yang muncul paling atas adalah milik saya. Kalau menjadi orang paling keren tak tercapai, maka menjadi pacar Okke -- ya, saya melakukannya lagi -- yang teratas pun bolehlah.
Maaf, saya menyimpang lagi, seperti biasa. Salahkan rapat-rapat berkepanjangan di kantor.
Kembali ke kemampuan Bahasa Indonesia yang makin menurun. Sejak dulu saya telah merasakan minat untuk mendalami bahasa kesatuan ini. Pada masa-masa saya dan ibu saya berebut Intisari yang baru diantar ke rumah, kolom J.S. Badudu tentang Bahasa Indonesia yang baik dan benar -- saya lupa judulnya -- adalah salah satu kegemaran saya. Setelah Perkara Kriminal, tentu saja.
Di sekolah saya memiliki hobi baru, berusaha menangkap kesalahan tata bahasa sang ibu/bapak guru. Demikian juga pada saat saya menonton acara berita -- biasanya karena menunggu film kegemaran; apa boleh buat, hanya ada satu saluran di televisi ketika itu. Favorit saya adalah "agar supaya," "demi untuk," dan "banyak anak-anak." Tidak perlu saya beri contoh dalam kalimat bukan?
Tidak, saya tidak mengatakan pemahaman saya terhadap Bahasa Indonesia (pernah) begitu bagusnya. Jauh dari itu, saya pernah menulis tentang ini, salah satu alasan saya lebih suka menulis entri di blog ini dalam bahasa Inggris adalah kurangnya kemampuan saya membangun tanpa kesalahan kalimat Bahasa Indonesia. Bagi saya, aturan bahasa Inggris sudah jelas. Contohnya kalimat di bawah ini:
This is Budi.
Seandainya saya ganti "is" di atas dengan "are" pasti Anda akan langsung mengerutkan kening. Contoh lain:
What is her name?
Seandainya alih-alih "what" saya gunakan "who" tentu tidak sedikit yang langsung berkata, "Itu salah." Dua contoh lagi:
My absence was due to an urgent family matter.
The reason I did not come was that I had an urgent family matter.
Seandainya kedua kalimat di atas saya ganti dengan, "I was absent due to an urgent family matter" dan "The reason I did not come was because I had an urgent family matter," saya yakin -- walaupun tidak banyak -- tentulah ada yang mengangkat tangan, siap untuk interupsi.
Tetapi coba perhatikan kalimat berikut ini:
Dengan tersisihnya Brasil dan para bintangnya di perempat final, telah membuat banyak orang kini menjagokan Jerman untuk keluar sebagai juara dunia.
Ada kesalahan? Satu lagi:
Karena sering terlambat masuk bekerja, atasan Fulan secara khusus memanggil pemuda itu dan menasihatinya.
Anda temukan kejanggalan?
Maaf, saya tidak tahan; saya harus memasukkan yang ini:
Duda itu mengawasi istrinya memasukkan mobil ke garasi.
Saya pernah melakukan eksperimen kecil berikut ini. Saya tuliskan dua atau tiga kalimat dalam Bahasa Indonesia, lalu saya minta beberapa teman setanah air, pada beberapa kesempatan yang berbeda, untuk menilai: apakah kalimat-kalimat saya memenuhi kaidah tata bahasa kita? Bahkan kalimat yang sederhana pun membuat sebagian besar dari mereka berpikir keras, sebelum akhirnya berkata, "Ya, ini kalimat yang benar." Itu pun tidak jarang dengan tambahan, "Sepertinya."
Sekadar catatan: saya sendiri tidak dapat mengatakan bahwa beberapa kalimat yang saya tuliskan tersebut benar atau salah dari segi tata bahasa.
Adalah hal yang menyedihkan, menurut saya, bahwa sebagian dari kita (termasuk saya) dapat lebih leluasa menuangkan ide dan pikiran dalam bahasa asing daripada dalam bahasa sendiri. Merupakan sebuah peringatan, menurut saya, bahwa sebagian dari kita (termasuk saya) dapat dengan segera mengenali kesalahan dalam kalimat bahasa asing namun menemukan kesulitan untuk melakukan hal yang sama terhadap kalimat Bahasa Indonesia.
Kali berikut seorang saudara sebangsa memberi tahu saya, "Anda salah. Itu seharusnya lie down, bukan lay down," mungkin saya akan menjawab, "Terima kasih. Sekarang bisakah Anda memberi tahu saya mana yang benar: antri atau antre?"
Sedang mendengarkan: Rosco Gordon - Cheese and Crackers
Sedang merasa: gembira
Kalo pake bahasa Indonesia salah-salah, bahasa Inggris tambah salah, bhs Belanda apa lagi, kayanya jauh lebih menyedihkan lagi ren ...:P
--jauhlebihmenyedihkanlagi ini salah juga ya ?--
Berarti elu kuantitas di atas kualitas, Son. Kan masih ada Jawa, Sunda, apalagi? C, Pascal, VB, Java, Perl :)
Salah nggak ya? Tergantung sih. Kalo jauhlebihmenyedihkanlagi ini nyolong sepatu orang ya jelas salah.
blog hop!
Halo, Blog Hop.
hmm.. rasanya kembali ke sekolah..
Jadi ingat "daripada" "daripada" nya Pak Harto :) .. sama "menurut bapak Presiden" nya Pak Harmoko :P ....
jadi ingat ibu boen ...
Ternyata entri ini adalah entri yang mengingat.
Jadi inget martabak manis.
gue pikir ga ada kali orang2 yang bener2 tau kaidah bahasa indonesia yang bener kayak gimana, secara aturan-aturannya sendiri berubah-ubah mulu..... *eh iya ga sih?* hihihi...
kalo buat gue, pada akhirnya, (kalo emang tulisan/bahasa nggak diperluin untuk kepentingan formal/akademis) ya gimana kita enaknya nyampein pesen aja :)
:D
Emang bener, pada akhirnya tujuan berkomunikasi itu kan bikin pihak satunya ngerti maksud kita. Kalo tujuannya tercapai, caranya nggak penting.
Cuma ya itu, ngerasanya aneh aja. Masak bahasa asing lebih dipahami daripada bahasa sendiri? Sama aja kayak orang yang lebih berani berkunjung ke pelosok-pelosok negara asing daripada ke pelosok-pelosok negara sendiri.
emang sampe sekarang gak ada gantinya Pak Yus Badudu ya?
Kalau kupikir, fenomena yang disampaikan di atas lebih dikarenakan kurangnya sosialisasi bagaimana menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sering ditemukan alih-alih pers mengedukasi masyarakat, ia justru memberikan contoh yang tidak benar. Tidak jarang menciptakan sebuah "trend sesaat" (familiar dengan frase tersebut?) yang justru menyesatkan. Apakah di SMP sekarang masih diajarkan EYD?
Wajar aja kalo bingung sama tulisan di koran lokal nasional, soalnya pers kita juga suka bereksperimen dengan istilah-istilah yang digunakan. Masalah kebiasaan aja, sih, kalo kita yang di Indonesia ini sering baca koran ato denger berita di tivi, ngerti nggak ngerti hajar aja, lama-lama nyambung juga (walopun blom tentu bener juga).
NB. abis ngegugel :Pacar okke. Masih urutan keempat, nih. Ayo, ayo, semangat. Gue udah bantuin atu, tuh :-D.
Tau tuh. Sekarang malah adanya yus apel, yus tomat, ama kadang-kadang yus duren ya, Bun.
Kenap nap SMP, Wis? Kenap nap nggak SD sekalian? BTW, apa bedanya "dikarenakan" ama "diakibatkan"?
Juwi, elu rugi banget ya, masak ada tipi didengerin doang.
NB: dari Warnet Panorama di Mal Setrasari, nomer tiga dong!
Son! Gapai lu nyari "pacar dodol" di Google :))
Dari warnet di amsterdam udah nomer satu ren :). Ngelink ke entri WC Withdrawal SYndrome
Weleh, komen aja kok ya selisipan.
He...he..he.. namanya juga iseng ... tapi pacar dodol masih nomer 2 tuh, dan ngelinknya ke elu, mestinya ke okke :))
Dari kamar Dodol di Singapura nomer 4. Nomer 7-nya Menyiklit.
salah satu contoh yang bikin banyak orang kesaru tuh kata 'acuh'. Pengertian sebagian orang bertentangan dengan arti aslinya. Ngotot pula. Sampe2 g pernah hampir ngebawa tuh kamus besar bahasa indonesia yang segede gaban ijo itu ke sekolah huehueheuhue =D
anyway, bener juga. gampangan belajar programming language kalo gitu yah. syntax-nya jelas.
exit(0);
Bener juga ya, Ren. Kalo diinget-inget lagi, berita di tivi lebih sering cuma gue dengerin, tapi kalo acara lain di tivi, gue tonton juga.
Jadi inget dulu(uuu) pernah ada temen yang ngambil kelas di Informatics minta diajarin apa gitu, gua lupa, kalo nggak C ya Pascal. Suatu hari dia nemu masalah, yang bikin dia pusing sehari semalem: programnya nggak bisa dikompail mulu, padahal menurut dia udah sesuai ama contoh.
Pas gua baca kodenya, ternyata masalahnya adalah: setColor dia tulis setColour en dia nggak nyadar sama sekali, bahkan waktu dibandingin ama contohnya.
hehehe,gue penggemar Koran Kompas sejati..dari kecil itu acuan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar.











