"Malam, neng."
"Malam. Tumben sendirian? Diko nggak ikut?"
"Aku suruh pulang duluan. Capai sekali dia sepertinya."
"Nah kamu sendiri nggak lelah? Kalian kan selalu bareng. Kerja bareng. Makan bareng. Ke gym bareng. Jangan-jangan mandi juga bareng?"
"Cuma kalau terpaksa. Iya deh, aku ngaku. Aku bilang aku mau mampir ke sini. Dia langsung tahu diri dan milih pulang."
"Ih, kok gitu sih? Memangnya kenapa kalau kamu ke sini? Kamu mau apa di sini, hayo?"
"Mau makan dong. Barusan aku lihat di luar masih ada tandanya 'Rumah Makan Semarang' kok."
"Ini kan sudah jam segini. Sebentar lagi kita tutup."
"Iya deh, ngaku. Aku cuma kepingin ketemu kamu. Sehari nggak lihat kamu rasanya bagaimana gitu. Puas?"
"Dasar gombal. Mau makan apa?"
"Baru juga dibilang cuma mau lihat kamu."
"Mau makan apa?"
"Pura-pura galak ya? Apa yang masih ada? Soto ayam ada?"
"Aku lihat dulu. Minumnya biasa?"
"Biasa. Tuh kan, kamu juga perhatian sama aku. Pura-pura."
"Lha wong setiap kali pesannya es teh manis, siapa yang nggak merhatiin coba? Sebentar ya."
"Jangan lama-lama."
***
"Kamu beruntung, sotonya masih ada."
"Kamu sudah makan? Makan sama-sama yuk, temani aku. Aku bayar deh. Lumayan kan, sudah mau tutup begini ada yang beli soto ayam dua mangkok."
"Wah, makasih. Tapi aku minum saja, perutku kurang enak. Dari mana sih malam-malam begini? Ada kasus baru ya?"
"Begitulah. Kebetulan Kapten kenal dengan siapanya korban gitu, jadi kita tangani serius."
"Lho, biasanya nggak serius dong?"
"Ha ha, ya bukan begitu. Seperti kamu dan Siska. Kalau lagi ada Ibu, kerjanya langsung cekatan."
"Enak saja. Kita tuh selalu cekatan kok, ada Ibu ataupun tidak. Kasus apa sih kalau boleh tahu?"
"Sejak kapan kamu tertarik urusan polisi? Wah, benar-benar mulai perhatian nih sama aku. Bagus, bagus. Akhirnya usahaku menarik perhatian kamu tidak sia-sia."
"Sudah, sudah. Ayo ceritakan, mumpung aku masih tertarik ini."
"Jangan deh, nanti kamu ke wartawan."
"Gaya ah. Jadi penasaran nih!"
"Hmm..."
"Iyalah, kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Aku ngerti kok."
"Bukan begitu. Aku rasa kamu nggak akan tertarik juga. Pembunuhan ini."
"Wah, seru! Seperti di novel-novel itu ya? Siapakah pelakunya? Whodunit!"
"Kamu tuh ya. Pembunuhan dijadikan guyonan. Lagipula jarang sekali ada kasus nyata yang seperti di novel. Istri ditemukan meninggal di bathtub, ternyata sang suamilah pembunuhnya. Atau kekasih gelap sang suami. Atau kepala pelayan."
"Mana ada kepala pelayan di Indonesia?"
"Makanya."
"Ya sudah, cerita saja. Selama tidak mengganggu selera makan kamu."
"Sebentar. Ini kok keras sih dagingnya? Boleh minta es teh manis satu lagi?"
***
"Jadi?"
"Jadi si korban ini adalah seorang pengusaha. Kelihatannya cukup sukses biarpun bukan konglomerat yang rumahnya di Pondok Indah. Beberapa hari yang lalu dia ditemukan tewas di -- eh, jangan ketawa -- di kamar mandi rumahnya."
"Aha! Di bathtub ya?"
"He-eh. Tapi tetap tidak ada kepala pelayan yang terlibat, jadi jangan senang dulu. Karena tidak ada tanda-tanda pintu atau jendela dibuka paksa, kita langsung fokus ke orang-orang yang tinggal di rumah itu.
"Si korban ini -- sebutlah namanya Pak X, aku tidak perlu beri tahu kamu identitasnya kan -- tinggal di rumah yang, biarpun bukan ukuran PI, cukup besar, ada dua lantai dan lima kamar. Yang tinggal di situ -- selain Bu X -- adalah adik Bu X dan istrinya, lalu adik Pak X yang belum menikah. Juga dua orang pembantu. Ada juga supir pribadi yang tidak tinggal di situ."
"Adik Bu X dan istrinya itu akur tidak dengan Pak X? Kan biasanya yang punya rumah agak-agak bagaimana gitu terhadap ipar yang menumpang. Eh, itu rumah punya Pak X kan?"
"Terdaftar atas nama Pak X. Yang berarti sekarang jadi milik Bu X. Untuk ukuran Jakarta cukup berharga, rumah sebesar itu dan tidak terlalu jauh dari pusat kota."
"Si ipar ini -- Pak dan Bu Y -- hubungannya baik-baik saja? Lalu hubungan Bu X dan Bu Y?"
"Menurut keterangan para saudara dan pembantu, normal-normal saja. Yang kadang ribut adalah Pak X dan adik kandungnya -- Z? Tapi itupun menurut informasi yang kita kumpulkan bukan ribut yang di luar batas."
"Wah, bukan cerita yang bagus kalau begitu. Kasus whodunit itu para tersangkanya masing-masing harus punya motif, supaya pembaca tidak dapat menebak. Selain motif, mereka juga masing-masing harus punya alibi. Atau tidak ada di antara mereka yang punya alibi yang kuat, jadi pelakunya bisa siapa saja."
"Aku sudah bilang, di dunia nyata jarang sekali ada kasus ideal seperti itu."
"Kalau begitu, kalian sudah tahu pelakunya siapa?"
"Belum. Tapi dalam beberapa hari terakhir ini sudah cukup banyak informasi yang kita kumpulkan. Eh, Siska sepertinya mau pulang."
***
"Tambah sotonya?"
"Tidak, terima kasih. Sampai mana tadi?"
"Baru daftar tersangka. Ayo, sekarang kita telaah satu persatu."
"Kita?"
"Kamu cerita, aku dengarkan."
"Seperti yang tadi aku sudah bilang, Pak X adalah pengusaha. Bisnisnya pemotongan kayu di Sumatra dan Kalimantan, lalu dia datangkan ke Jawa. Bu X juga ikut terlibat dalam bisnis ini tapi sepertinya hanya sebagai pendamping. Menurut karyawan-karyawan mereka, segala keputusan Pak X yang membuat.
"Pak dan Bu Y baru menikah, kira-kira setahun yang lalu -- beda usia mereka dengan Pak dan Bu X cukup jauh. Dua-duanya karyawan swasta. Pak Y di bidang tekstil, Bu Y di biro perjalanan. Si Z lulus kuliah tiga tahunan yang lalu, sekarang bekerja di perusahaan IT."
"Aiti?"
"Information Technology. Komputer itu lho."
"Oh. Lalu, dari semua tersangka ini, bagaimana alibi masing-masing?"
"Gaya ah, alibi. Kedua pembantu mengaku tidak mendengar apa-apa. Atau tepatnya, mereka tidak mendengar apa-apa yang luar biasa malam itu. Ternyata Z punya kegemaran menonton televisi hingga larut malam, jadi kalaupun ada suara-suara, mereka selalu berasumsi itu dari televisi asalnya. Mereka -- pembantu -- mengaku malam itu sudah tidur, mereka selalu tidur cepat, sekitar jam sembilan. Tadi sudah aku bilang belum kalau kejadiannya diperkirakan tengah malam? Belum? Nah, kejadiannya diperkirakan setelah jam sebelas dan sebelum jam tiga. Pak X ditemukan keesokan harinya."
"Bu X ke mana?"
"Sedang kondangan di Surabaya bersama Bu Y. Ini kejadiannya Sabtu malam."
"Jadi para wanita terbebas dong? Ada saksi bahwa mereka benar-benar di Surabaya?"
"He-eh. Kamu kok pintar begitu sih? Aku makin suka lho."
"Genit. Lanjut."
"Pak Y mengaku malam itu dia ada acara bersama teman-teman kampusnya. Semacam reuni kecil-kecilan di rumah makan. Setelah bubar, yang masih single -- dan Pak Y, karena akhir pekan itu dia praktis single -- lanjut ke pub di Kemang. Nah, di sini alibinya kurang kuat. Mereka bilang Pak Y dan satu orang lagi pulang lebih dahulu, sekitar tengah malam. Pak Y mengaku langsung masuk kamar dan tidur. Keadaan di rumah terlihat normal ketika dia pulang. Dia tidak mendengar apa-apa dan sama sekali tidak terbangun sampai keesokan paginya."
"Siapa yang menemukan Pak X? Kamu itu lho, jadi polisi kok ceritanya nggak berurutan."
"Ya maaf, kan ceritanya sambil makan soto tadi. Dagingnya ada yang keras pula, kamu musti bilang Ibu tuh! Gini-gini aku dan Diko kan pelanggan setia kalian."
"Iya, nanti dilaporkan. Terus?"
"Besok paginya sekitar jam 10, salah satu pembantu ngetuk kamar Pak X karena biasanya jam segitu dia sudah bangun. Karena tidak ada jawaban setelah diketuk agak lama, padahal mobil Pak X ada di garasi, si pembantu ini memberi tahu Pak Y, yang sedang mencuci mobil.
"Ternyata kamarnya tidak dikunci dan kamar mandi -- oh iya, kamar mandinya ada di dalam kamar Pak X, maaf, lupa -- pintu kamar mandinya terbuka. Singkat cerita, Pak Y langsung membangunkan Z dan menghubungi polisi."
"Alibi Z?"
"Malam itu dia mengaku bekerja di kantor. Baru pulang sekitar jam empat pagi. Sama seperti Pak Z, dia tidak melihat ada yang aneh di rumah dan langsung tidur."
"Bekerja di kantor? Itu kan hari Sabtu? Sudah dicek?"
"Sudah, neng. Dua orang satpam gedung kantornya berani bersumpah bahwa Z keluar setelah jam tiga. Ada peraturan bahwa kalau ada orang yang keluar atau masuk setelah tengah malam, mereka harus mencatat waktunya."
"Okay. Jadi kita punya dua tersangka utama: Y dan Z. Ada lagi?"
"Sementara ini. Kita juga sudah memeriksa alibi supir Pak X. Malam itu dia ada di rumah, istrinya berani bersumpah."
"Jadi kesimpulannya?"
"Belum ada kesimpulan. Bukti-bukti yang ada mengarah pada pembunuhan terencana. Tidak ada sidik jari ataupun jejak seperti helai rambut, serat baju, dan semacamnya."
"Berarti ada kemungkinan pembunuhnya adalah orang sewaan. Yang berarti alibi tidak berlaku lagi."
"Pintarnya. Kamu tahu nggak, aku rasa kamu itu terlalu banyak membaca Agatha Christie."
"Enak saja. Agatha Christie itu zaman dulu sekali. Zaman berubah, cerita misteri juga. Baiklah, mari kita berkonsentrasi kepada Y dan Z. Seperti apa mereka ini? Y adalah adik Bu X, bukan? Ada cerita bahwa dia tidak menyetujui Bu X menikahi Pak X atau semacam itu?"
"Kebetulan usia Y dan Z sama, 27 tahun. Sebelum menikah Y menyewa kamar kos. Calon Bu Y juga. Usai menikah mereka langsung tinggal bersama Pak dan Bu X. Hubungan X dan Y baik-baik saja. Mereka tidak dekat, mungkin karena perbedaan usia -- Pak X sudah hampir 40 tahun -- tapi tidak ada ketegangan juga. Boleh dibilang masing-masing mengurusi urusannya sendiri."
"Selama situ nggak nyenggol sini ya sini asik-asik aja."
"Begitulah kira-kira. Y punya mobil sendiri, setiap hari dia mengantarkan dan menjemput istrinya. Keadaan keuangan mereka tidak buruk, mereka sedang menabung untuk membeli rumah sendiri. Ada lagi yang Ibu Detektif mau tahu tentang Pak Y?"
"Ganteng tidak?"
"Aduh, pertanyaan apa itu, tidak ada hubungannya dengan kasus."
"Ganteng tidak?"
"Biasa saja. Bu Y juga biasa saja."
"Kamu itu, jadi polisi harus punya pengamatan yang tajam. 'Coba deskripsikan tersangka Anda.' 'Biasa saja tuh.' Bagaimana sih."
"Iya deh. Z cukup ganteng. Rambutnya dicukur pendek dan sepertinya cukup memperhatikan penampilan. Dia juga punya mobil sendiri, dibelikan oleh Pak X beberapa tahun lalu. Puas? Oh, satu lagi, dia penggemar sepakbola. Kamarnya dipenuhi atribut, dari poster, seragam, sampai jam dinding dan cangkir."
"Maaf, aku berbenah dulu ya. Sudah waktunya tutup. Kamu mau minum lagi?"
"Air putih saja."
***
"Kembali ke alibi Y dan Z. Y selalu bersama teman-temannya malam itu?"
"Betul. Acara makan malam mereka mulai sekitar pukul setengah delapan."
"Tapi ada kemungkinan Y yang membunuh X? Setelah dia pulang?"
"Betul. Dari Kemang ke rumah X kira-kira dia perlu setengah jam. Berarti dia sampai di rumah sekitar setengah satu atau jam satu. Bisa saja setelah itu entah bagaimana dia masuk ke kamar X dan membunuhnya."
"Pak X ini, dia biasanya tidur jam berapa?"
"Cukup cepat. Hari biasa sekitar jam sepuluh. Malam Minggu kadang dia menonton televisi sampai tengah malam."
"Hmm... Lalu, Z?"
"Menurut pengakuannya, dia tiba di kantor setelah makan malam, sekitar pukul sembilan."
"Dia kerja sendirian?"
"Ada dua orang lagi. Mereka pulang sekitar jam sepuluh. Setelah itu Z sendirian. Tapi dia mengirim email dua kali ke manajernya -- sebentar, aku lihat catatanku dulu... Satu dikirim pukul 22:43, satu lagi 02:11. Lalu ada satu lagi email pribadi untuk temannya, dikirim pukul 00:37."
"Hmm..."
"Bagaimana, Ibu Detektif? Apa hasil deduksi Anda?"
"Ah, jangan begitu. Aku cuma suka membaca cerita detektif. Tapi serius nih, aku rasa kamu perlu juga sekali-sekali membaca novel-novel itu. Menurutku akan membantu dalam pekerjaan kamu. Para penulis itu tidak main-main lho. Mereka melakukan riset selama bertahun-tahun demi menuliskan kisah yang akurat. Pembaca masa kini tidaklah bodoh, tidak bisa dibohongi begitu saja."
"Bagaimana kalau kamu sekali-sekali mau kalau aku ajak kencan? Nah, kamu aku persilakan membawaku ke toko buku dan merekomendasikan mana novel yang harus kubaca. Lho, kok cuma senyum?"
"Hmm... Tadi kamu bilang Z penggemar bola? Klub mana?"
"Liverpool. Itu, yang kostumnya merah. Klub Liga Inggris..."
"Nanti dulu, kamu bilang kejadiannya hari Sabtu? Minggu lalu? Benar?"
"Ya."
"Sabtu lalu ada pertandingan Liverpool melawan Manchester United. Mereka musuh bebuyutan."
"Jadi?"
"Pertandingannya mulai jam sembilan dan selesai sekitar jam sebelas, disiarkan langsung di televisi."
"Maksudmu?"
"Coba kamu pikirkan. Kalau kamu penggemar setia salah satu klub, saking setianya sampai-sampai kamarmu penuh benda-benda koleksi klub yang bersangkutan--"
"Benar, kamarnya penuh dengan atribut Liverpool. Dan hanya Liverpool."
"-- apakah kamu rela tidak menonton pertandingan timmu melawan musuh besarnya demi bekerja semalam suntuk di kantor?"
"Yah, kalau boss memaksa, apa boleh buat?"
"Tidak. Begini maksudku. Kamu tahu bahwa kamu harus bekerja semalam suntuk. Sedangkan pertandingannya relatif awal..."
"Jadi mengapa tidak menonton pertandingannya dulu, setelah itu baru ke kantor untuk bekerja?"
"Tepat. Bagaimana kalau Z hanya memberi kesan bahwa ia ada di kantor selama itu? Bagaimana kalau dia datang ke kantor jam sembilan sekedar untuk menunjukkan wajah kepada kedua temannya? Bagaimana kalau setelah itu ia melakukan sesuatu untuk menyuruh komputernya mengirim email secara otomatis pada jam-jam yang ia tentukan?"
"Aku harus cek dengan ahli IT di kantor."
"Bagaimana kalau entah dengan cara bagaimana Z dapat keluar masuk gedung kantornya tanpa diketahui satpam?"
"Berarti dia bisa pulang, membunuh kakaknya, lalu kembali ke kantor untuk bekerja hingga pukul tiga pagi."
"Bisa?"
"Bisa. Tapi semua ini hanya bagaimana-bagaimana. Bukan bukti."
"Bukan. Tapi kamu bisa pakai hasil diskusi kita ini untuk menggali informasi lebih dalam lagi tentang Z. Walaupun aku rasa tanpa diskusi ini pun pada akhirnya kalian bisa mengungkap bahwa Z adalah pembunuhnya."
"Atau bahwa pembunuhnya adalah orang lain."
"Atau pembunuhnya orang lain."
"Hasil kerja yang bagus, Ibu Detektif."
"Ah, kebetulan saja. Janji ya, kalau sampai nantinya terungkap bahwa Z adalah pelakunya, kamu harus ceritakan semua detail kepadaku."
"Janji. Wah, aku sama sekali tidak menyangka bahwa kamu bisa berpikir sejauh itu. Seolah-olah..."
"Seolah-olah apa?"
"Seolah-olah malam ini aku ditakdirkan untuk bertemu denganmu."
"Gombal kamu. Sudah yuk, kita keluar. Biar aku matikan lampu-lampu dan kunci pintu dulu."
***
"Aku ada pertanyaan."
"Ya?"
"Kamu kok bisa tahu banyak tentang sepakbola?"
"Eh?"
"Itu tadi, kamu bisa tahu tentang Liverpool. Sampai hapal jadual pertandingannya segala."
"Itu kan pertandingan besar. Liverpool lawan Manchester United. Semua juga tahu."
"Siapa yang beri tahu kamu?"
"Kamu bilang sekali-sekali mau ajak aku kencan ke toko buku?"
"Nggak jadi."
[Abis download NBA All-Star Game 2006. Jadi untuk sementara ESPN termaafkan.]
Lagi dengerin: U2 - Walk On
Lagi ngerasa: gembira
Ada cerita lain tentang Z dan bu X yang jauh lebih muda dari pak X ngga ? jangan-jangan ...
kok lu canggih sih ren..
Jeng jeng!
huaaaaaa....panjang bgt ceritanyaa.. :p emang jago nulis!
wah... seru! jangan-jangan...
Jangan-jangan ada hubungannya dengan pengalaman pribadi, ya, Ren.
Mumul siapa ya?
CSI Jakarta Ren?
Mumul == CSI Jakarta?











